Kubah Masjid di Indonesia, Macam-Macam Serta Kegunaannya

Kubah masjid di Indonesia

Kubah merupakan salah satu jenis atap yang digunakan pada bangunan. biasanya kubah digunakan pada bangunan suci maupun bangunan penting, seperti  masjid, gereja, museum, dll.

Kubah sendiri sudah identik dengan bangunan masjid. Tanpa adanya kubah, sulit bagi para musafir untuk mencari masjid di lokasi sekitar.

Secara umum, fungsi kubah sebagai atap bangunan adalah:

  • Memberikan pencahayaan bagian dalam bangunan
  • Menahan panas dari bagian luar
  • Memperkokoh bangunan
  • Mempermudah pencarian

Kubah masjid yang ada di Indonesia, dikelompokkan berdasarkan dari bahan pembuatannya. berbeda dengan negara lain yang membahas kalau kubah dibuat berdasarkan gaya arsitektur dengan ciri khas masing-masing.

Berikut adalah penjelasan mengenai macam-macam kubah masjid di Indonesia serta kelebihan dan kekurangannya.

Macam-macam kubah masjid di Indonesia

Kubah masjid beton 

Yap,

Sudah jelas sekali bahwa ada juga kubah yang menggunakan bahan bangunan beton. Beton adalah campuran dari pasir, semen, dan air.

Beton merupakan sebuah bahan bangunan yang sudah ada sejak jaman dulu kala. Beton sendiri, sudah terbukti kekuatannya mengalahkan atap dengan bahan bangunan lainnya. 

Dikarenakan terbuat dari semen dan pasir, kubah ini termasuk golongan kubah yang paling berat. jangan heran kalau kubah beton bahkan ada yang bisa mencapai 50 ton.

Dengan pondasi yang lemah, justru dapat membahayakan warga sekitar, bahkan dapat beresiko  terjadinya retak maupun runtuh pada bangunan. Apalagi jika terjadi kebocoran, akan sulit untuk ditambal seperti semula ketimbang kubah lainnya.

Oleh karena itu, penting dilakukan survei terlebih dahulu apakah masjid yang ingin menggunakan kubah beton, memiliki pondasi yang kuat atau tidak. 

Sekarang, sudah ada alternatif lain dalam menggunakan kubah beton, yaitu kubah masjid GRC. 

Kubah masjid GRC

Kubah masjid GRC (glass fiber reinforced concrete), sebuah bahan bangunan campuran antara serat kaca dan semen. Kubah GRC termasuk populer di Indonesia dikarenakan kubah ini lebih dapat menonjolkan kecantikan dan keunikan kubah ketimbang beton.

Apalagi, kubah ini lebih ringan dari kubah semen pasir atau beton, sehingga banyak masyarakat yang menggunakan kubah masjid GRC sebagai alternatif atap masjid yang ingin dibangunnya.

Hanya saja,

Kubah GRC masih tergolong kubah yang berat. Walaupun tidak seberat kubah beton, pondasi masjid harus tetap kuat, alias konstruksi pembangunannya tidak sembarangan.

Untuk wilayah dengan struktur tanah yang kurang kokoh atau berada di daerah yang rawan seperti di pegunungan, lebih baik dikonsultasikan terlebih dahulu untuk dilakukan perhitungan tentang pemasangan kubah masjid terlebih dahulu.

Nah,

Dikarenakan kekurangan tersebut, di abad ke-20, banyak masjid yang menggunakan bahan dasar dari baja sebagai atapnya. Selengkapnya simak penjelasan berikut ini.

Kubah masjid stainless steel

Kubah masjid stainless steel (sumber CV Tamita Jaya)

Kubah stainless steel adalah kubah dengan bahan baja yang terdiri dari kromium dan besi. Anda pasti tidak asing lagi dengan kubah yang satu ini.

Kubah ini terkenal dengan nama lainnya kubah anti karat. Apalagi, ciri khas dari kubah ini memiliki warna silver dan biasanya memiliki bentuk ½ bola. 

Dikarenakan menggunakan baja sebagai bahan utamanya, kubah stainless steel termasuk kubah yang ringan. Apalagi, harganya cukup terjangkau dan cocok dengan anda yang menyukai desain minimalis.

Jika anda menginginkan kubah dengan model yang unik dan warna yang mencolok, maka kubah ini bukan pilihan anda. Kubah ini memang tidak cocok memiliki model yang bervariasi dan bahan kubah sendiri tidak untuk di cat. 

Kubah masjid galvalum

Kubah masjid galvalum (sumber CV Tamita Jaya)

Pernah dengar?

Kalau anda seorang yang akrab dengan pembangunan, tentu akrab juga dengan baja galvalum. Galvalum adalah baja ringan yang dibentuk dari zincalume, silikon, aluminium, dan seng. Biasanya, kubah ini menggunakan rangka galvanis dengan baja galvalum sebagai selimutnya.

Kelebihan dari kubah masjid galvalum adalah kekuatannya dalam menahan bencana alam maupun panas, walaupun masih dibawah dari kubah berbahan semen dari segi kekuatannya.

Selain itu, kubah masjid galvalum juga tahan terhadap korosi dan karatan, bahkan material galvalum sudah banyak menggantikan atap bangunan dengan bahan seng.

Teknik pengecatan dalam kubah sendiri menggunakan teknik yang berbeda dari biasanya, sehingga diperlukan keahlian khusus untuk mengecat kembali kubah yang sudah mulai tidak mencolok warnanya. Tetapi tenang saja, karena warna dari kubah ini bisa tahan hingga puluhan tahun.

Banyak sekali para DKM masjid yang memilih kubah galvalum, stainless, maupun GRC sebagai atap bangunannya.

Hal ini dikarenakan kubah ini masih tergolong dengan harga yang terjangkau. Apalagi, pembuatan masjid biasanya dikumpulkan melalui zakat dan infak masyarakat setempat, sehingga ketiga kubah ini adalah pilihannya.

Kubah masjid enamel

Kubah masjid enamel, atau dapat diartikan juga sebagai kubah yang dilapisi bahan enamel. Biasanya kubah ini menggunakan baja galvanis sebagai strukturnya dengan menggunakan kulit enamel (makanya disebut kubah masjid enamel).

Hal ini digunakan untuk menghindari karat, serta tahan terhadap cuaca, baik panas maupun kondisi hujan besar.

Secara kekuatan pun kubah ini melebihi kubah stainless maupun galvalum. Banyak juga yang merasa bahwa kubah enamel memberikan kecantikan yang lebih dari jenis kubah lainnya. bisa dikatakan kalau kubah masjid enamel sendiri adalah kubah yang terbaik. 

Akan tetapi,

Manisnya kelebihan dari kubah ini tentu setara dengan harganya. Jika kita membuat perbandingan, seandainya kubah galvalum memiliki harga Rp.100 juta, maka dengan bahan enamel bisa mencapai harga Rp.400 juta.

Itulah setiap macam-macam kubah masjid di Indonesia yang umum digunakan sebagai atap bangunan.

Sebenarnya ada juga masjid yang tidak menggunakan kubah sebagai atapnya yang akan dijelaskan secara singkat di bawah ini.

Tidak semua masjid menggunakan kubah di Indonesia

Di era abad ke-15, masyarakat Nusantara sebagian besar berada di atas kendali kerajaan Majapahit. mayoritas agama masyarakat pun beragama hindu.

Sehingga, bangunan masjid yang dibuat pun menyerupai bangunan kerajaan Majapahit. hal ini dilakukan agar dapat diterima oleh masyarakat sekitar. Masjid yang dibangun pun biasanya bernuansa adat daerah setempat, seperti Masjid Agung Demak dengan arsitektur campuran antara hindu-jawa-islam atau Masjid Sultan Suriansyah campuran antara islam dan banjar.

Tidak ada aturan mengenai bagaimana seharusnya bentuk sebuah masjid. Justru, hal yang diutamakan adalah agar masyarakat dapat membedakan antara bangunan biasa dengan masjid.

Akhir

Demikian postingan kali ini mengenai berbagai macam bahan kubah masjid dan kegunaannya, semoga berguna dan bisa menjadi pencerahan bagi kita semua, salam 🙂

Lihat juga postingan lainnya :

CGA, layanan jasa kontraktor rumah di Bandung

CGA, jasa kontraktor rumah di Bandung, jangan ragu untuk menghubungi kami, atau bila anda ingin mengetahui lebih jauh tentang kami dapat membuka halaman profil CGA.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Zzz...
Exit mobile version